CRINUM TITIPKAN SALAMKU (Cerpen november 2016)



Bunga-bunga Crinum asiaticum telah bermekaran. Di halaman, di kebun, bahkan di kaki gunung. Bunga pertanda musim hujan, bunga perlambang akhir tahun. Ya bunga-bunga ini mekar di bulan yang mendekati akhir tahun. Dimulai dari bulan oktober hingga desember.  Sore hari bunga-bunga layu lalu pagi hari ada bunga lain yang mekar. Seperti hukum di alam ini, setiap yang mati di gantikan dengan individu baru. Begitu terus, hingga alam ini punah oleh terompet isrofil.
Pagi hari yang masih dingin, Alfi berjalan menuju Villa yang berjarak 300 Km dari rumahnya. Berjalan kaki di pagi hari, sungguh menyenangkan dengan udara sejuk di pulau Sebesi. Gunung di pulau itu membuat segalanya asri. Pulau kecil yang di kelilingi laut itu menjadi dambaan tempat tinggal orang-orang di kota yang tercemar.  Melewati jalan-jalan berbatu yang banyak bunga Crinum asiaticum, Alfi menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya. Orang-orang itu akan menuju gunung memanen pisang dan kelapa.  Villa terletak di dekat dermaga Sebesi. Berdekatan dengan bibir pantai, membuat Villa-villa di Sebesi nampak nyaman. Suasana pantai seringkali dirindukan oleh orang-orang yang bosan dengan rutinitas kerja. Tak jarang orang dari jauh mengunjugi Sebesi sebagai tempat mengusir penat di kepala.
Hari ini Alfi mempersiapkan kedatangan tamu dari pontianak, jogja dan satu lagi... dari bogor. Tamu yang setidaknya ada 45-an orang. Lumayan melelahkan, membersihkan 3 Villa dan membantu ibu memasak. Tamu akan hadir sekitar pukul 12:30. Desas-desus dari sopir perahu motor, mereka berjumlah 40 orang. Ibu Alfi sejak tadi sudah selesai mempersipakan makanan. Ia lalu berbaring di tempat tidur bambu yang dipasang di bawah pohon Terminalia Catapa.sambil menunggu tamu datang. sepoy-sepoy angin pantai mengusir kelelahan.
“Cuaca lumayan panas ... para tamu pasti pengen Es Dugan..,”Kata Alfi
“yaaa kalau mereka pesan kan kita tinggal hidangkan nak,,,”Kata Ibu
Tiba-tiba Alfi melihat awan-awan hitam berarak dari selatan. Cumolonimbus., awan penghantar hujan.
            “Lihat Bu,baru panas beberapa jam, awan sudah menyerbu kemari,” Kata Alfi menunjuk awan dengan kesal.
            “Hujan kan rejeki nak,,,,”Kata Ibu menghibur.
            “Tapi bu,,, kalau hujan mana bisa mereka main perahu...., terus mereka nggak jadi minum es dugan,”Kata Alfi
            “Ya kan ada hari esok nak,,,, lagian kalau mereka jiwa-jiwa petualang walaupun hujan juga tetap nekat,”
Benar juga kata ibu Alfi. Biasanya orang yang suka Mbolang kan suka nekat :D.
Pukul 13:30 para tamu pengunjung datang. Selilis 1 jam dari waktu perkiraan. Mereka disambut hujan deras, curahan dari awan Cumolonimbus yang ditunjuk oleh Alfi tadi. Mereka berhamburan turun dari perahu motor sambil menutup-nutupi kepala dengan jaket atau alat pelindung lainnya. Ada juga yang membawa payung lipatan.
Ada 2 perahu motor. Masing-masing mengangkut 25 orang, dan satu perahu lagi 15 orang, namun perahu yang berisi 15 orang itu ukurannya lebih kecil. Perahu kecil itu oleng saat di perjalanan tadi.
“Sial baju basah semua,.. masuk angin gua....”Kata salah satu cowok sambil berlari kecil menuju Villa.
“aaaaaa serunya perjalanan tadi,”Teriak seorang gadis kegirangan.
Begitulah... setiap orang punya penilaian berbeda meski di dalam moment yang sama. Ada yang dinilai positif ada yang negatif. Mereka berteduh di teras-teras Villa, ada yang di warung alfi juga, beberapa masuk ke Villa.
“Pesan kopi bu...”Kata seorang cowok, wajahnya seperti suku Jawa (ada manis-manisnya gitu).
“Kopi hitam, kopi putih, apa kopi susu mas...?,”Tanya Alfi.
Cowok yang memesan tadi tercengang, yang dipanggilnya “BU” tadi ternyata seorang gadis jelita.
            “Hello.... bisakah saya bantu...,”Kata Alfi melambai tangan”
            “ehhh.. anu mbak,, saya pesan kopi hitam...”Kata Cowok Salting (Salah tingkah)
“Oke tunggu ya...segera dibuat,”Kata Alfi.
Masih dalam keadaan terpaku oleh kecantikan Alfi, cowok yang bernama Samsul senyum-senyum sendiri. Alangkah cantiknya gadis pulau ini,,, gumamnya. Jelang 5 menit kopi siap disajikan.
            “Silahkan.... ini kopinya,” Kata Alfi ramah.
            “Iya nona, makasih,,,”Kata Samsul sambil tersenyum malu.
Alfi kembali ke dapur setelah menerima uang dari Samsul, lalu menyelinap ke sebuah kamar di ujung ruang. Alfi mengintip dari celah tirai  dan sudah usang.
            “Manis sekali kakak itu,,, hihihi...,” dia cekikikan sendiri.
            “ah,,, sepertinya dia orang jogja... dilihat dari logat bicaranya agak-agak jawa gimanaaa gitu,, hehehe lucu! Tapi manis,” sedang asyik mengintip, ibu menyibak untaian tirai usang itu. Kontan saja sosok Alfi terlihat, bahkan Samsul yang sedang menyruput kopi di teras warung bisa melihat dengan jelas badan Alfi terpaku di sana.
            “Nah,,,, kenapa berdiri disini nak?, ayo bantu ibu menghidangkan makan untuk tamu!,” Kata Ibu.
            “emmm, ya bu,...,”Kata Alfi sambil tersenyum malu. Sempat dia melirik ke arah Samsul yang sejak tadi mengawasinya.
Alfi bergegas ke dapur, lalu menyiapkan Prasmanan untuk para tamu pengunjung. Mengangkat tiap-tiap baskom berisi macam-macam sayur, lauk, nasi.... ada juga kerupuk, dan pisang. Rombongan berkaos hitam dengan tulisan sablon di punggung bertuliskan MAPALA Pontianak segera  mendahului makan. Mengambil piring pada tumpukan yang telah disediakan. Bergiliran mereka mengambil sayur dan lauk.
            “Silahkan dicoba nak, ini cumi-cumi dari laut kami. Asli tanpa bahan pengawet, segar langsung dimasak” Kata Ibu promosi. Ibu memang suka begitu. Katanya, harus ada yang dibanggakan dari pulau Sebesi. Termasuk hasil ladang dan hasil lautnya. Masakan Ibu juga enak, khas Banten. Iya, Alfi dan keluarga adalah Suku Banten. Wajah mereka pun khas Banten, juga warna kulit yang putih menjadi salah satu ciri-cirinya.
            “Iya bu kelihatannya cumi-cuminya enak... aku coba deh,” Kata seorang Gadis Pontianak yang berambut pirang.
Setelah rombongan dari Pontianak selesai memenuhi piringnya dengan nasi, sayur mayur serta lauk, giliran rombongan BOLANG Jogja yang mengantri. Jantung Alfi berdegup kencang. Kadang ia berfikir apa degub-an jantung seorang yang ketakutan  dan seorang yang jatuh cinta itu sama... ah , tapi mana mungkin jatuh cinta pada laki-laki Jogja itu. Dari dulu banyak sekali pengunjung  dari jauh, tapi kenapa baru kali ini aku seperti ini, Hatinya berkata.
Alfi sejak tadi berdiri di dekat baskom sayur. Sambil merapikan meja apabila ada sayur yang tumpah. Ketika Samsul di hadapannya, Alfi mundur selangkah, menjauhi meja.
“Permisi nona, apa aku boleh mengambil sedikit sayur ini?,” Kata Samsul.
“oh,,, silahkan kakak, ambilah sepuasmu,”Kata Alfi sambil menahan napas karena grogi.
“Baiklah, ku ambil....,”Kata Samsul, kemudian berlalu.
Alfi memejamkan mata dan kembali bernapas. Degub jantungnya perlahan normal lagi. Dia memandangi Samsul yang duduk di bangku panjang di teras warung. Kembali setelah rombongan BOLANG Jogja selesai, giliran BPI Chapter Bogor yang di dominasi oleh para  gadis cantik dengan badan yang ramping namun atletis, mungkin mereka hobi senam.
Akhirnya semua kebagian makananan. Sayur-sayur di baskom yang tadi penuh, sekarang tinggal wadahnya saja. Alfi membereskan baskom-baskom itu untuk di cuci. Ada tukang cuci piring bayaran, dipekerjakan jika ada tamu pengunjung yang cukup banyak.
Setelah beberapa saat mereka sudah selesai makan. Para tamu pengunjung itu menumpuk piring-piring kotor di bawah kursi. Lalu Ibu pencuci piring memunguti piring –piring kotor itu. Alfi ikut membantu. Dia memberanikan diri memunguti piring yang tak jauh dari tempat duduk Samsul. Dia melihat Samsul sedang tertawa bersama teman-teman barunya. Sesama Backpacker adalah saudara. Begitulah prinsip mereka. Setelah bertemu di Sebesi ini mungkin mereka juga akan petualangan bersama, suatu hari nanti. Saling bertukar nomor Hp, akun FB, Pin BBM, atau apapun yang bisa di gunakan untuk komunikasi. Menjadi petualang atau backpacker kelihatannya cukup menyenangkan. Kadangkala, Alfi merasa iri pada mereka. Mereka bisa kemanapun... sesuka mereka. Mengikuti kata hati. Mereka hidup bebas, bahagia menikamati alam.  Seperti penyair mungkin,,,.... atau lebih dari itu. Jiwa-jiwa yang bebas sebebas alam. Suatu hari nanti Alfi ingin jadi seperti mereka. Jika diizinkan oleh Yang Maha Kuasa.
Hari menjelang senja. Di cakrawala bagian barat ada beberapa helai pancaran keemasan senja di sela-sela gumpalan mendung yang masih tersisa. Rombongan para tamu bermain-main di pantai sebelum mereka mandi. Pantai Sebesi yang masih bersih dan perawan menjadi istimewa di mata para tamu pengunjung. Berenang, bermain dayung, Voli pantai dan ada juga yang hanya berfoto ria, untuk kenangan.
Kumandang Magrib terdengar dari surau yang berada di tengah perkampungan. Alfi sudah membawa mukenah dan menunaikan Sholat magrib di surau samping Villa. Surau yang kecil, hanya cukup untuk 10 orang. Beberapa tamu pengunjung beragama non islam sehingga tidak ikut sholat. Setelah menunggu giliran jamaah pertama, akhirnya Alfi sholat dengan rombongan jamaah kedua. Rupanya ada laki-laki Jogja, tapi Alfi pura-pura tak melihatnya. Dia berada di Saf belakangnya. Hanya ada Alfi satu-satunya jamaah perempuan.Usai sholat, Alfi tak langsung beranjak dari duduknya. Para laki-laki keluar dari surau. Alfi sadar, ada seorang yang tak ikut keluar, diangkatnya kepala lalu dilihat, ternyata laki-laki Jogja.
“Hai nona....emmm maksudku nona Alfi. ..., Maaf aku hanya ingin memberitahu namaku,,,”Kata Samsul.
Alfi tak bergeming, sedikit malu.
“emmm, namaku Samsul.... dari Jogja,”Kata Samsul sambil tersenyum.
eh, nanti kalaupun nona Alfi tidak sibuk, bisakah kita ngobrol-ngobrol? Aku,,, ingin tau banyak tentang Pulau Sebesi,”Kata Samsul.
“Baiklah..., nanti malam di pinggir pantai, di bawah pohon ketapang yang ada kursi bambunya,” Kata Alfi.
            “Oke, kutunggu...”Kata Samsul, lalu bangkit dan keluar dari surau.
Ada rasa yang  tak biasa, senang... takut... malu. Tapi okelah, ini hanya sekedar ngobrol.. ya ngobrol biasa. Alfi juga meyakinkan dirinya bahwa semua tamu di pulau ini bisa jadi temannya. Mereka tamu, hanya tamu. Mungkin semalam,,, paling lama 3 malam... lalu mereka, para tamu itu akan pulang ke tempatnya masing-masing.
Pukul 22:00, suara musik dan nyanyian bergema di tengah-tengah dinginnya malam. Laut nampak hitam. Ada kelap-kelip bintang terpancar di permukaannya. Para tamu asyik dengan kegiatannya masing-masing. Alfi menunggu Samsul di tempat yang dijanjikan. Mengusir bosan, Alfi menulis puisi, tenjang bujang petualang. Puisi untuk Samsul, bujang petualang (Bulang)
Hei bulang!!
Hidupmu bebas bagai angin menerpa ilalang
Kesana, kemari tak tentu arah, tak tentu jarak
Terus melanglang
Lalu kapankah kau berubah, berlabuh, atau berhenti terbang

Kadang indah pelangi tak menggodamu
Kadang jutaan bintang pun tak menghentikanmu
Mungkin disana ada badai bergemuruh
Menghantammu
Namun kau tetap berjalan,
Seirama dengan sinar terangmu

Redupnya sang surya kau telah siap berencana
Gelapnya dunia kau masih berusaha
Remangnya wajahmu tak mampu menunda
Sungguh kau bolang jelajah semesta

Semangat bolangmu tak surut
Meski usia kian melarut
Tiada lelah mampu merengut
Karena jiwa bak seorang pelaut

Kau pecinta karunia Tuhan yang abadi
Tergambar pada jengkal tapak kaki
Cerita dan rekam alam ini
Kau bak menabur debu biuh iri.

            Samsul tiba dihadapannya, dengan wajah ramahnya. Lalu duduk di samping Alfi.
“Betapa indah ya, pulau ini. Damai dan menyenangkan. Apa selalu seperti ini?,” Kata Samsul.
“iya,,,, selalu begini. Aku tak mau meninggalkan pulau ini, karna disini seperti surga bagiku,” Kata Alfi.
“Ya benar,,, mungkin suatu hari nanti aku ingin membuat gubuk pribadiku disini,”Kata Samsul sambil tersenyum.
“haha... apa Bulang sepertimu bisa menetap? Atau,,,,, kali ini jatuh cinta pada Pulau Sebesi?,” Kata Alfi
“Bulang?? Apa itu?” Tanya Samsul tak mengerti.
“Bujang petualang..... ini, aku buatkan puisi khusus untuk kakak,,,, bujang petualang”
Samsul meraih kertas lalu membacanya. Dia tertawa membaca bait-bait puisi dari Alfi.
            “Kau benar nona, aku bujang petualang,”Samsul terbahak.
            “Ya.... aku berhasil menebaknya kan,” Alfi ikut tertawa.
            “Tapi aku punya keinginan, menetap di Pulau yang indah, hidup bersama seorang yang kucinta,”Kata Samsul sambil memandangi Alfi.
            “yeaah,,,, semoga cita-cita itu jadi kenyataan,”Kata Alfi
Mereka terus bercerita. Tentang pengalaman Samsul, tempat kerja Samasul, lalu Alfi juga bercerita tentang sekolahnya dan adat istiadat orang di Pulau Sebesi. Sampai akhirnya mereka sadar waktu menunjukkan pukul 03:30, nyaris pagi. Mereka saling pamit, Samsul juga berkata kalau besok akan berpindah tempat, menjelajah Lampung Barat. Alfi tidur di Villa, bersama sepupunya yang masih SMP. Samsul bersama rombongan Jogja tidur di Vill nomor 3.. Samsul tak bisa terlelap, di bacanya ulang puisi dari Alfi, kemudian terseyum. Sebuah puisi yang cocok untuk dirinya. Besok waktunya ia melangkahkan kaki dari Pulau Sebesi. Entah kapan lagi bertemu Alfi.

***
Waktu menunjukkan pukul 09:30, sudah saatnya kembali ke dermaga.
“Kemana dia...,”Kata hati Samsul. Waktu pulang telah tiba dan sepertinya tak ada harapan  untuk bertemu Alfi.
Perahu motor sudah berjejer di dermaga, siap menjemput para tamu pengunjung kembali ke dermaga Canti. Lalu membiarkan mereka pulang ke daerahnya masing-masing. Mereka saling memeluk,  sebelum berpisah. Ada yang saling berjanji untuk menghubungi, atau untuk kembali menjelajah bersama.
“Kita tetap saudara, meskipun jauh. Backpacker adalah saudara,” Kata mereka serempak. Samsul menunggu giliran naik ke perahu, harus mengantri. Memanjat ke atas perahu sambil memegangi tali. Sesekali kapal oleng karena ombak. Tiba-tiba ada seorang gadis kecil memanggil Samsul.
“Kak Samsul, ini ada titipan dari kak Alfi,”Kata gadis kecil.
            “Apa ini dek? Mana kak Alfi? Kata Samsul mencari-cari.
            “Kak Alfi tidak disini kak, saya cuma dititipin ini,”Kata gadis kecil lalu pergi.
Di dalam perahu, dibukanya bungkusan itu. Rupanya bunga Crinum dan selembar kertas. Dibuka lalu dibaca.
            “Aku akan menunggu, karena menunggu ialah bagian dari setia.seperti bunga Crinum menunggu hujan. Meski lama, tapi tetap menunggu, karena Dia punya komitmen, harus mekar di bulan oktober. Aku pun punya komitmen. Crinum jadi saksi bahwa aku akan setia. Dikala rindu, ku titipkan salam pada pucuk-pucuk kuncup Crinum. aku yakin di Jogja sana ada Crinum yang bermekaran. Sampai jumpa, di lain waktu.



PENULIS : SILVI MARSELIN
Ingin menjadi multitalenta, salah satu talenta yang ingin dikuasai adalah dalam dunia menulis. Menyukai banyak hal yang menarik, serta membutuhkan kreatifitas. Hobi dalam Foto model, kerajinan tangan, membuar  kue dan bisnis.
           


Komentar