Bunga-bunga Crinum asiaticum telah bermekaran. Di
halaman, di kebun, bahkan di kaki gunung. Bunga pertanda musim hujan, bunga
perlambang akhir tahun. Ya bunga-bunga ini mekar di bulan yang mendekati akhir
tahun. Dimulai dari bulan oktober hingga desember. Sore hari bunga-bunga layu lalu pagi hari ada
bunga lain yang mekar. Seperti hukum di alam ini, setiap yang mati di gantikan
dengan individu baru. Begitu terus, hingga alam ini punah oleh terompet
isrofil.
Pagi hari yang masih
dingin, Alfi berjalan menuju Villa yang berjarak 300 Km dari rumahnya. Berjalan
kaki di pagi hari, sungguh menyenangkan dengan udara sejuk di pulau Sebesi.
Gunung di pulau itu membuat segalanya asri. Pulau kecil yang di kelilingi laut
itu menjadi dambaan tempat tinggal orang-orang di kota yang tercemar. Melewati jalan-jalan berbatu yang banyak bunga
Crinum asiaticum, Alfi menyapa
orang-orang yang berpapasan dengannya. Orang-orang itu akan menuju gunung
memanen pisang dan kelapa. Villa
terletak di dekat dermaga Sebesi. Berdekatan dengan bibir pantai, membuat
Villa-villa di Sebesi nampak nyaman. Suasana pantai seringkali dirindukan oleh
orang-orang yang bosan dengan rutinitas kerja. Tak jarang orang dari jauh
mengunjugi Sebesi sebagai tempat mengusir penat di kepala.
Hari ini Alfi
mempersiapkan kedatangan tamu dari pontianak, jogja dan satu lagi... dari bogor.
Tamu yang setidaknya ada 45-an orang. Lumayan melelahkan, membersihkan 3 Villa
dan membantu ibu memasak. Tamu akan hadir sekitar pukul 12:30. Desas-desus dari
sopir perahu motor, mereka berjumlah 40 orang. Ibu Alfi sejak tadi sudah
selesai mempersipakan makanan. Ia lalu berbaring di tempat tidur bambu yang
dipasang di bawah pohon Terminalia Catapa.sambil
menunggu tamu datang. sepoy-sepoy
angin pantai mengusir kelelahan.
“Cuaca lumayan panas ...
para tamu pasti pengen Es Dugan..,”Kata Alfi
“yaaa kalau mereka
pesan kan kita tinggal hidangkan nak,,,”Kata Ibu
Tiba-tiba Alfi melihat awan-awan hitam
berarak dari selatan. Cumolonimbus.,
awan penghantar hujan.
“Lihat
Bu,baru panas beberapa jam, awan sudah menyerbu kemari,” Kata Alfi menunjuk
awan dengan kesal.
“Hujan
kan rejeki nak,,,,”Kata Ibu menghibur.
“Tapi
bu,,, kalau hujan mana bisa mereka main perahu...., terus mereka nggak jadi
minum es dugan,”Kata Alfi
“Ya
kan ada hari esok nak,,,, lagian kalau mereka jiwa-jiwa petualang walaupun
hujan juga tetap nekat,”
Benar juga kata ibu Alfi. Biasanya orang
yang suka Mbolang kan suka nekat :D.
Pukul 13:30 para tamu
pengunjung datang. Selilis 1 jam dari waktu perkiraan. Mereka disambut hujan
deras, curahan dari awan Cumolonimbus
yang ditunjuk oleh Alfi tadi. Mereka berhamburan turun dari perahu motor sambil
menutup-nutupi kepala dengan jaket atau alat pelindung lainnya. Ada juga yang
membawa payung lipatan.
Ada 2 perahu motor.
Masing-masing mengangkut 25 orang, dan satu perahu lagi 15 orang, namun perahu
yang berisi 15 orang itu ukurannya lebih kecil. Perahu kecil itu oleng saat di
perjalanan tadi.
“Sial baju basah
semua,.. masuk angin gua....”Kata salah satu cowok sambil berlari kecil menuju
Villa.
“aaaaaa serunya
perjalanan tadi,”Teriak seorang gadis kegirangan.
Begitulah... setiap
orang punya penilaian berbeda meski di dalam moment yang sama. Ada yang dinilai
positif ada yang negatif. Mereka berteduh di teras-teras Villa, ada yang di
warung alfi juga, beberapa masuk ke Villa.
“Pesan kopi bu...”Kata
seorang cowok, wajahnya seperti suku Jawa (ada manis-manisnya gitu).
“Kopi hitam, kopi
putih, apa kopi susu mas...?,”Tanya Alfi.
Cowok yang memesan tadi tercengang, yang
dipanggilnya “BU” tadi ternyata seorang gadis jelita.
“Hello....
bisakah saya bantu...,”Kata Alfi melambai tangan”
“ehhh..
anu mbak,, saya pesan kopi hitam...”Kata Cowok Salting (Salah tingkah)
“Oke tunggu ya...segera dibuat,”Kata
Alfi.
Masih dalam keadaan terpaku oleh kecantikan
Alfi, cowok yang bernama Samsul senyum-senyum sendiri. Alangkah cantiknya gadis
pulau ini,,, gumamnya. Jelang 5 menit kopi siap disajikan.
“Silahkan....
ini kopinya,” Kata Alfi ramah.
“Iya
nona, makasih,,,”Kata Samsul sambil tersenyum malu.
Alfi kembali ke dapur setelah menerima
uang dari Samsul, lalu menyelinap ke sebuah kamar di ujung ruang. Alfi
mengintip dari celah tirai dan sudah
usang.
“Manis
sekali kakak itu,,, hihihi...,” dia cekikikan sendiri.
“ah,,,
sepertinya dia orang jogja... dilihat dari logat bicaranya agak-agak jawa
gimanaaa gitu,, hehehe lucu! Tapi manis,” sedang asyik mengintip, ibu menyibak
untaian tirai usang itu. Kontan saja sosok Alfi terlihat, bahkan Samsul yang
sedang menyruput kopi di teras warung
bisa melihat dengan jelas badan Alfi terpaku di sana.
“Nah,,,,
kenapa berdiri disini nak?, ayo bantu ibu menghidangkan makan untuk tamu!,”
Kata Ibu.
“emmm,
ya bu,...,”Kata Alfi sambil tersenyum malu. Sempat dia melirik ke arah Samsul
yang sejak tadi mengawasinya.
Alfi bergegas ke dapur,
lalu menyiapkan Prasmanan untuk para tamu pengunjung. Mengangkat tiap-tiap
baskom berisi macam-macam sayur, lauk, nasi.... ada juga kerupuk, dan pisang.
Rombongan berkaos hitam dengan tulisan sablon di punggung bertuliskan MAPALA
Pontianak segera mendahului makan.
Mengambil piring pada tumpukan yang telah disediakan. Bergiliran mereka
mengambil sayur dan lauk.
“Silahkan
dicoba nak, ini cumi-cumi dari laut kami. Asli tanpa bahan pengawet, segar
langsung dimasak” Kata Ibu promosi. Ibu memang suka begitu. Katanya, harus ada
yang dibanggakan dari pulau Sebesi. Termasuk hasil ladang dan hasil lautnya.
Masakan Ibu juga enak, khas Banten. Iya, Alfi dan keluarga adalah Suku Banten.
Wajah mereka pun khas Banten, juga warna kulit yang putih menjadi salah satu
ciri-cirinya.
“Iya
bu kelihatannya cumi-cuminya enak... aku coba deh,” Kata seorang Gadis
Pontianak yang berambut pirang.
Setelah rombongan dari
Pontianak selesai memenuhi piringnya dengan nasi, sayur mayur serta lauk,
giliran rombongan BOLANG Jogja yang mengantri. Jantung Alfi berdegup kencang.
Kadang ia berfikir apa degub-an jantung seorang yang ketakutan dan seorang yang jatuh cinta itu sama... ah ,
tapi mana mungkin jatuh cinta pada laki-laki Jogja itu. Dari dulu banyak sekali
pengunjung dari jauh, tapi kenapa baru
kali ini aku seperti ini, Hatinya berkata.
Alfi sejak tadi berdiri
di dekat baskom sayur. Sambil merapikan meja apabila ada sayur yang tumpah.
Ketika Samsul di hadapannya, Alfi mundur selangkah, menjauhi meja.
“Permisi nona, apa aku
boleh mengambil sedikit sayur ini?,” Kata Samsul.
“oh,,, silahkan kakak,
ambilah sepuasmu,”Kata Alfi sambil menahan napas karena grogi.
“Baiklah, ku
ambil....,”Kata Samsul, kemudian berlalu.
Alfi memejamkan mata
dan kembali bernapas. Degub jantungnya perlahan normal lagi. Dia memandangi
Samsul yang duduk di bangku panjang di teras warung. Kembali setelah rombongan
BOLANG Jogja selesai, giliran BPI Chapter Bogor yang di dominasi oleh para gadis cantik dengan badan yang ramping namun
atletis, mungkin mereka hobi senam.
Akhirnya semua kebagian
makananan. Sayur-sayur di baskom yang tadi penuh, sekarang tinggal wadahnya
saja. Alfi membereskan baskom-baskom itu untuk di cuci. Ada tukang cuci piring
bayaran, dipekerjakan jika ada tamu pengunjung yang cukup banyak.
Setelah beberapa saat
mereka sudah selesai makan. Para tamu pengunjung itu menumpuk piring-piring
kotor di bawah kursi. Lalu Ibu pencuci piring memunguti piring –piring kotor
itu. Alfi ikut membantu. Dia memberanikan diri memunguti piring yang tak jauh
dari tempat duduk Samsul. Dia melihat Samsul sedang tertawa bersama teman-teman
barunya. Sesama Backpacker adalah saudara. Begitulah prinsip mereka. Setelah
bertemu di Sebesi ini mungkin mereka juga akan petualangan bersama, suatu hari nanti.
Saling bertukar nomor Hp, akun FB, Pin BBM, atau apapun yang bisa di gunakan
untuk komunikasi. Menjadi petualang atau backpacker kelihatannya cukup
menyenangkan. Kadangkala, Alfi merasa iri pada mereka. Mereka bisa kemanapun...
sesuka mereka. Mengikuti kata hati. Mereka hidup bebas, bahagia menikamati alam. Seperti penyair mungkin,,,.... atau lebih
dari itu. Jiwa-jiwa yang bebas sebebas alam. Suatu hari nanti Alfi ingin jadi
seperti mereka. Jika diizinkan oleh Yang Maha Kuasa.
Hari menjelang senja.
Di cakrawala bagian barat ada beberapa helai pancaran keemasan senja di
sela-sela gumpalan mendung yang masih tersisa. Rombongan para tamu bermain-main
di pantai sebelum mereka mandi. Pantai Sebesi yang masih bersih dan perawan
menjadi istimewa di mata para tamu pengunjung. Berenang, bermain dayung, Voli
pantai dan ada juga yang hanya berfoto ria, untuk kenangan.
Kumandang Magrib
terdengar dari surau yang berada di tengah perkampungan. Alfi sudah membawa
mukenah dan menunaikan Sholat magrib di surau samping Villa. Surau yang kecil,
hanya cukup untuk 10 orang. Beberapa tamu pengunjung beragama non islam
sehingga tidak ikut sholat. Setelah menunggu giliran jamaah pertama, akhirnya
Alfi sholat dengan rombongan jamaah kedua. Rupanya ada laki-laki Jogja, tapi
Alfi pura-pura tak melihatnya. Dia berada di Saf belakangnya. Hanya ada Alfi
satu-satunya jamaah perempuan.Usai sholat, Alfi tak langsung beranjak dari
duduknya. Para laki-laki keluar dari surau. Alfi sadar, ada seorang yang tak
ikut keluar, diangkatnya kepala lalu dilihat, ternyata laki-laki Jogja.
“Hai nona....emmm
maksudku nona Alfi. ..., Maaf aku hanya ingin memberitahu namaku,,,”Kata
Samsul.
Alfi tak bergeming,
sedikit malu.
“emmm, namaku
Samsul.... dari Jogja,”Kata Samsul sambil tersenyum.
“eh,
nanti kalaupun nona Alfi tidak sibuk, bisakah kita ngobrol-ngobrol? Aku,,,
ingin tau banyak tentang Pulau Sebesi,”Kata Samsul.
“Baiklah..., nanti
malam di pinggir pantai, di bawah pohon ketapang yang ada kursi bambunya,” Kata
Alfi.
“Oke,
kutunggu...”Kata Samsul, lalu bangkit dan keluar dari surau.
Ada rasa yang tak biasa, senang... takut... malu. Tapi
okelah, ini hanya sekedar ngobrol.. ya ngobrol biasa. Alfi juga meyakinkan
dirinya bahwa semua tamu di pulau ini bisa jadi temannya. Mereka tamu, hanya
tamu. Mungkin semalam,,, paling lama 3 malam... lalu mereka, para tamu itu akan
pulang ke tempatnya masing-masing.
Pukul 22:00, suara
musik dan nyanyian bergema di tengah-tengah dinginnya malam. Laut nampak hitam.
Ada kelap-kelip bintang terpancar di permukaannya. Para tamu asyik dengan
kegiatannya masing-masing. Alfi menunggu Samsul di tempat yang dijanjikan.
Mengusir bosan, Alfi menulis puisi, tenjang bujang petualang. Puisi untuk
Samsul, bujang petualang (Bulang)
Hei
bulang!!
Hidupmu
bebas bagai angin menerpa ilalang
Kesana,
kemari tak tentu arah, tak tentu jarak
Terus
melanglang
Lalu
kapankah kau berubah, berlabuh, atau berhenti terbang
Kadang
indah pelangi tak menggodamu
Kadang
jutaan bintang pun tak menghentikanmu
Mungkin
disana ada badai bergemuruh
Menghantammu
Namun
kau tetap berjalan,
Seirama
dengan sinar terangmu
Redupnya
sang surya kau telah siap berencana
Gelapnya
dunia kau masih berusaha
Remangnya
wajahmu tak mampu menunda
Sungguh
kau bolang jelajah semesta
Semangat
bolangmu tak surut
Meski
usia kian melarut
Tiada
lelah mampu merengut
Karena
jiwa bak seorang pelaut
Kau
pecinta karunia Tuhan yang abadi
Tergambar
pada jengkal tapak kaki
Cerita
dan rekam alam ini
Kau
bak menabur debu biuh iri.
Samsul
tiba dihadapannya, dengan wajah ramahnya. Lalu duduk di samping Alfi.
“Betapa indah ya, pulau ini. Damai dan
menyenangkan. Apa selalu seperti ini?,” Kata Samsul.
“iya,,,, selalu begini. Aku tak mau
meninggalkan pulau ini, karna disini seperti surga bagiku,” Kata Alfi.
“Ya benar,,, mungkin suatu hari nanti
aku ingin membuat gubuk pribadiku disini,”Kata Samsul sambil tersenyum.
“haha... apa Bulang sepertimu bisa
menetap? Atau,,,,, kali ini jatuh cinta pada Pulau Sebesi?,” Kata Alfi
“Bulang?? Apa itu?” Tanya Samsul tak
mengerti.
“Bujang petualang..... ini, aku buatkan
puisi khusus untuk kakak,,,, bujang petualang”
Samsul meraih kertas lalu membacanya.
Dia tertawa membaca bait-bait puisi dari Alfi.
“Kau
benar nona, aku bujang petualang,”Samsul terbahak.
“Ya....
aku berhasil menebaknya kan,” Alfi ikut tertawa.
“Tapi
aku punya keinginan, menetap di Pulau yang indah, hidup bersama seorang yang
kucinta,”Kata Samsul sambil memandangi Alfi.
“yeaah,,,,
semoga cita-cita itu jadi kenyataan,”Kata Alfi
Mereka terus bercerita.
Tentang pengalaman Samsul, tempat kerja Samasul, lalu Alfi juga bercerita
tentang sekolahnya dan adat istiadat orang di Pulau Sebesi. Sampai akhirnya
mereka sadar waktu menunjukkan pukul 03:30, nyaris pagi. Mereka saling pamit,
Samsul juga berkata kalau besok akan berpindah tempat, menjelajah Lampung
Barat. Alfi tidur di Villa, bersama sepupunya yang masih SMP. Samsul bersama rombongan
Jogja tidur di Vill nomor 3.. Samsul tak bisa terlelap, di bacanya ulang puisi
dari Alfi, kemudian terseyum. Sebuah puisi yang cocok untuk dirinya. Besok
waktunya ia melangkahkan kaki dari Pulau Sebesi. Entah kapan lagi bertemu Alfi.
***
Waktu menunjukkan pukul
09:30, sudah saatnya kembali ke dermaga.
“Kemana dia...,”Kata
hati Samsul. Waktu pulang telah tiba dan sepertinya tak ada harapan untuk bertemu Alfi.
Perahu motor sudah
berjejer di dermaga, siap menjemput para tamu pengunjung kembali ke dermaga
Canti. Lalu membiarkan mereka pulang ke daerahnya masing-masing. Mereka saling
memeluk, sebelum berpisah. Ada yang
saling berjanji untuk menghubungi, atau untuk kembali menjelajah bersama.
“Kita tetap saudara,
meskipun jauh. Backpacker adalah saudara,” Kata mereka serempak. Samsul
menunggu giliran naik ke perahu, harus mengantri. Memanjat ke atas perahu
sambil memegangi tali. Sesekali kapal oleng karena ombak. Tiba-tiba ada seorang
gadis kecil memanggil Samsul.
“Kak Samsul, ini ada titipan
dari kak Alfi,”Kata gadis kecil.
“Apa
ini dek? Mana kak Alfi? Kata Samsul mencari-cari.
“Kak
Alfi tidak disini kak, saya cuma dititipin ini,”Kata gadis kecil lalu pergi.
Di dalam perahu, dibukanya bungkusan
itu. Rupanya bunga Crinum dan
selembar kertas. Dibuka lalu dibaca.
“Aku
akan menunggu, karena menunggu ialah bagian dari setia.seperti bunga Crinum menunggu hujan. Meski lama, tapi
tetap menunggu, karena Dia punya komitmen, harus mekar di bulan oktober. Aku
pun punya komitmen. Crinum jadi saksi
bahwa aku akan setia. Dikala rindu, ku titipkan salam pada pucuk-pucuk kuncup Crinum. aku yakin di Jogja sana ada Crinum yang bermekaran. Sampai jumpa, di
lain waktu.
PENULIS : SILVI MARSELIN
Ingin menjadi multitalenta, salah satu
talenta yang ingin dikuasai adalah dalam dunia menulis. Menyukai banyak hal
yang menarik, serta membutuhkan kreatifitas. Hobi dalam Foto model, kerajinan
tangan, membuar kue dan bisnis.
Komentar
Posting Komentar