Setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan. Sejak berakhirnya penjajahan di Negara ini, pemerintah memusnahkan buta huruf dengan berbagai cara, baik melalui sekolah rakyat atau kejar paket A. Tingkat kemajuan pendidikan disuatu Negara berbanding lurus dengan kemajuan Negara tersebut. Semisal suatu Negara yang mayoritas warganya buta huruf, atau hanya sekolah setingkat SD maka perkembangan ekonomi-budaya Negara tersebut juga rendah.
Pendidikan tak lepas dari Guru, yang bertugas untuk mengajarkan berbagai ilmu untuk muridnya. Tidak mungkin seseorang bisa jadi dokter tanpa adanya guru, tidak mungkin seseorang bisa jadi presiden tanpa adanya guru. Ya, guru sangat penting dan itu tidak bisa dipungkiri. Namun sayangnya, sangat sedikit yang berminat menjadi guru, walaupun ia sudah menempuh sarjana pendidikan (Guru). Alasannya adalah gaji guru yang rendah, bahkan bila dibandingkan dengan pekerja pabrik, gaji guru honor sangat jauh dibawahnya. Padahal melihat fungsi guru yang sangat vital bagi Negara ini, seharusnya pemerintah mensejahterakan kehidupan guru.
Membaca dari
berbagai sumber, ternyata di luar negri, gaji guru sangat fantastis. Bahkan di
inggris pada tahun 2004, guru TK digaji 190 juta per tahun, bahkan gaji guru SD
dan SMP bisa 2 kali lipatnya. Sangat jauh berbeda dengan diindonesia. Bayangkan
jika tidak ada yang mau jadi guru honor lantaran gaji yang kecil?? Tentulah tunas-tunas
bangsa kita, tidak bisa mengikuti era globalisasi, dan menggantungkan
leher-leher mereka pada tali kemiskinan yang kian menjulang tinggi.
Di Mesuji, khususnya
di Distrik Way Serdang, Pendidikan gratis
diterapkan mulai dari SD hingga SMP (TK bayar). Hal itu cukup menarik minat warga
yang tidak mampu, untuk bersekolah meskipun hanya sampai tingkat SMP. Sebagian
dari mereka yang memiliki minat sekolah, melanjutkan ke jenjang SMA. Ada 2 SMA
yang ada di Distrik Way serdang dan salah satunya adalah tempat dimana saya
mengabdikan diri untuk ikut serta memberantas kebodohan di Distrik yang
terpencil ini.
Sekolah desa memang
sangat berbeda dengan sekolah di kota, baik itu dari segi bangunan dan
fasilitas lainnya. Fasilitas didesa sangat minim, apalagi untuk peralatan
multimedia seperti proyektor dan komputer, kami hanya memiliki 1 buah saja. Sumber-sumber belajar, alat bahan
praktek, alat peraga, bahan-bahan untuk kerajinan tangan juga tak selengkap di
sekolah kota. bahkan sinyal, di Desa sangatlah tak layak, untuk mengakses internet saja sangat sulit. Tapi apalah daya, tanpa adanya barang-barang itu, kami tetap
harus mengajar dan belajar dengan sesuatu yang apa adanya. kadang kami berfikir, apakah tak ada perusahaan telekomunikasi yang berminat membangun beberapa tower disini, sehingga kami tak perlu kebingungan untuk menjari jaringan internet yang memadai.
“jangan jadikan keterbatasan
sebagai alas an kita untuk tidak bisa”, begitulah kata-kata yang sering saya
sampaikan kepada para peserta didik, dengan harapan mereka tak berputus asa dengan keadaan yang seperti itu.Pendidikan harus tetap berlanjut,
walau dengan segala keterbatasan, dan berharap suatu hari nanti keterbatasan
itu makin berkurang.
Beberapa Foto keadaan belajar kami:
Saat kami membuka pikiran untuk mencoba sesuatu yang baru
saat keterbatasan tak pernah menghalangi semangat belajar kami
(cari sinyal WIfi)
Kami tahu, kami bukan ahli pembuat, tapi kami hanya berusaha mencobanya
Suatu hari nanti kami akan memamerkan karya kami
karna memang kami anak-anak desa pantas mendapat juara
yang juga memiliki mental wirausaha
agar yang tidak bisa menjadi bisa
Karena sejatinya belajar itu butuh kenyamanan dan keterikatan jiwa
serta bertabur persahabatan
jangan pernah menyerah pada keterbatasan
hilangkan belenggu kebodohan
tanamkan moral baik dalam hati dan cerminkan pada perilaku
wujudkan mimpi,dan raih cita-cita-mu.












Komentar
Posting Komentar