DAMN in our journey


Musik mengalun ceria di bis kami yang imut itu. Anggraeni, dan Puspita yang heboh menyanyi, sehingga dapat mengusir kantuk kami. Pak Wane masih asyik dengan kameranya, memotret wajah-wajah cantik yang sudah agak ngantuk (terutama yang duduk di belakang).
Tepat dibelakangku ada Andaryani yang sejak tadi mengoceh tentang banyak hal, mulai dari hal penting hingga yang tidak penting. Tadi dia juga sempat menagih uang senilai 28 ribu yang masih ku simpan di lemari kayuku. Entah apa yang dimakan Andaryani waktu sarapan tadi, hingga ia terus-terusan bicara, sepajang jalan...
Setiawan yang tadinya duduk di kursi belakang, beralih ke kursi depan, duduk sama Syafitri. Mereka jadi bahan “Cie-Cie”.
“Cie... Setiawan sama Syafitri CLBK”,Kata salah satu teman.
Setiawan senyum-senyum menanggapi pernyataan itu. Entah apa yang dirasakan Setiawan saat itu, kayaknya dia GR gitu di cie-cie sama kawan-kawan. Yah begitulah Setiawan, di mah orangnya suka GR kalo digodain.
Bis membelok ke pertamina. Beberapa rekan turun untuk pipis. Aku juga ikut turun, bersama Rohman dan kawan-kawan lain, namun bukan berniat untuk pipis,... kami ingin berfoto, ya berfoto menggunakan Banner yang suda kami pesan. Menurut laporan yang saya dengar, beberapa penumpang Bis 1 (Bis besar) berkata bahwa perbuatan kami berfoto di Pertamina menggunakan Banner itu NORAK.... tapi Whatever lah,,,, kami tetap hepi walaupun dibilang NORAK.
Setelah dari Pertamina bis melaju lagi. Aku mulai mengantuk, dan menyandarkan kepala pada kursi bis imut itu sambil melihat pemandangan di luar bis. Pemandangannya indah, ada banyak tebing-tebing yang melekat disana akar-akar pepohonan. Indah sekali (Menurut pandangan orang mesuji), kalau ada kayak gituan di dekat rumahku, aku Pra-weddingnya mau foto dengan background akar-akar di tebing itu. Sejurus kemudian, aku mendengar tawa dari teman-teman, ternyata mereka melakukan hal konyol yakni: Melambaikan tangan pada orang-orang yang ditemui (entah itu nemu di pinggir jalan, atau bahkan om-om yang naik truk semua disapa dengan lambaian tangan)... ya semua orang... aku juga ikut-ikutan perbuatan konyol itu. Untung saja orang-orang disana juga ramah-ramah sehingga membalas lambaian kami.Hal konyol itu membuat rasa ngantuk kami hilang. Bahkan Pak Wane juga ikutan melambai-lambai, (Pokoknya kita serasa jadi artis dadakan gitu). Setelah puas berlambai-lambai tangan, Andaryani berkata bahwa kita akan segera sampai di pelabuhan Canti. Ohhhhh Finaly....
Bis menepi, ke dekat dermaga Canti pukul 11:05. Ku Lihat sekeliling dan di dermaga sudah terparkir kapal yang kami sewa. Kami turun dari bis dengan berebut (Gak Cuma duit atau pacar aja yang direbutin, turun dari bis juga rebutan!!). Beberapa dari kami menuju tepi dermaga dan berfoto. Angin laut terasa kencang sekali sampai-sampai badanku yang gak gemuk ini (kata halus dari “Kurus”) gak jatuh diterpa angin laut. Gak lucu kan kalo badanku yang gak gemuk ini (Baca:kurus) tertiup angin, jatuh ke laut dan terbawa ombak, lalu di makan ubur-ubur!.
 Rencananya, kami mau makan siang di dermaga Canti, tapi rencana itu gagal, karena sesegera mungkin kami harus menyebrang ke Pulau Sebesi. Para seksi konsumsi (Termasuk saya) membagikan nasi bungkus yang bungkusannya sudah basah ditembus kuah sayur itu kepada teman-teman. Aku dibantu oleh Pramuditha membagi bungkusan nasi itu. Setelah selesai dan semua mendapatkan nasi bungkus, Dosen meminta agar kami segera naik ke kapal.
“Kapalnya ada yang besar dan ada yang kecil, agar enak membaginya, yang tadi naik bis kecil, masuk ke kapal kecil”, Kata seseorang (Gak tau siapa).
Kami, para penumpang bis kecil mulai merangkak (kayak bayi aje ye) menuju kapal kecil. Hore..... tadi dapat bis yang kecil, sekarang dapat kapal yang kecil juga.... aku jadi inget kata pak Din Syamsudin pas beliau berkunjung ke kampus, kata pak Din, “SMALL IS BEAUTIFULL”, berarti,,,, bis dan kapal kami juga cantik dong, apalagi penumpangnya. Ternyata sulit juga usaha buat naik ke kapal imut kami. Kami harus melewati kapal lain sebagai jembatan menuju kapal imut. Ombak yang kuat menimbulkan kapal bergoyang dan mempersulit jalan kami. Beberapa rekan, terlihat takut waktu menyebrang. Pak nahkoda membantu kami menaikkan barang-barang ke kapal. Semua sudah berada di kapal sekarang. Aku, Wulandari, Wicandra, dan beberapa rekan, duduk di bagian belakang kapal. Aku berdiri dengan tenang (padahal sempoyongan) sambil asyik nonton teman-teman kapal besar yang masih rempong tarik-tarikan tangan, bantu-membantu teman lain naik ke kapal besar. Tak lupa, kami memakai pelampung,,, semuanya mendapat 1 pelampung (bagi yang udah bayar 20 rb).
Aku mulai BT menanti nahkoda menjalankan kapal imut ini. Lama nian nahkoda dan kondekturnya (kalo di kapal,,, apa namanya tetep kondektur ya kayak di bis gitu). Lalu mesin dihidupkan, aku mulai grogi. Kapal besar sudah berangkat... tak lama kapal imut juga melaju, tepatnya pukul 11:45. Aku duduk di belakang awak kapal, bersama Wulandari di sampingku, Fatmasari duduk di depanku, Setiawan berdiri di depanku Pak Zen di samping kiri serta Wicandra yang ada di depan pak Zen. Aku melihat Setiawan yang dengan asyiknya berdiri di depanku, dan berkata:
“Setiawan, kamu sini aja ya jangan pindah-pindah”, Kataku
“Ya kalo kamu mabok, saya gak mau deket-deket kamu”, Kata Setiawan, Sadis!.
“Nggk kok, aku nggak mabok lho...”Kataku. Setiawan sama sekali tidak menanggapi perkataanku. Rupanya dia asyik menonton deburan ombak.
Kulihat disana, di dalam awak kapal imut, WANITA DURJANA dan Yulia ngobrol-ngobrol dan tertawa di dekat jendela kapal imut. Entah apa yang mereka bicarakan, sampai-sampai mereka tertawa lebar dan cipratan air laut masuk ke mulut mereka.
“Asin,,,,”, Kata Wanita Durjana, sambil tertawa kegirangan.
Belum setengah jam perjalanan, perutku sudah mual karena ombak sangat besar. Wicandra dan Pak Zen sudah teler duluan. Mereka berdua sibuk mencari plastik (untuk muntah). Carolin sebagai seksi kesehatan yang baik, memberikan plastik kepada mereka. Perutku sudah mulai terobok-obok oleh ombak besar itu. Saat melihat air laut yang berbuih, perutku makin mual saja. Disana, tepat dihadapanku dan posisi wajah menghadap padaku, Wanita Durjana juga mabok dengan sukses. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Dia menatapku dengan putus asa, dan aku juga menatapnya tapi tatapanku kali ini ada maknanya, kalo pengen tau, maknanya adalah “AKU PENGEN MEDON NENG KENEEEE”. Oke, aku dan Wanita Durjana sekarang berada dalam situasi keputus asaan yang tiada henti-hentinya.
Sudah sekitar 1 jam lebih kapal mengarungi selat sunda yang tidak menyenangkan ini. Beberapa kali aku menghisap tolak angin guna menghilangkan rasa mualku. Nurmayuni sudah muntah sejak tadi. Kini Nurmayuni bersandar lemas di pundakku yang rapuh (bukan nenek-nenek, majas hiperbola ini). Aku yakin badannya dipenuhi keringat dingin, sampai aku bisa merasakan kalau jilbabnya basah. OMG, kenapa semuanya mabok,,,,, padahal ombak yang seperti ini asyik buat main titanic-titanican sama cowok.....  (Menghibur diri sambil mbayangin titanic-titanican), tapi kali ini proses menghibur diri dengan membayangkan titanic-titanican bersama Mario Maurence sia-sia saja, aku merasa semakin mual dan akhirnya.....
            “Yulia, ambilin plastik,,,,,,”Kataku dengan lemas tak berdaya. Yulia dengan tampang bingun campur BT mencarikan plastik di tumpukan sampah eh, kardus. Yulia mendapatkan plastik dan memberikan kepadaku. Yulia mengambil plastik wadah masker. Semua masker di keluarkan dari plastik dan plastik itu diberikan kepadaku, alasan mengapa Yulia melakukan itu karena Stok plastik untuk mabok sudah habis. Aku menerimanya dengan antusias dan dengan lega aku mabok juga, setelah mabok, aku baru sadar kalau plastik dari Yulia bocor
(-_-) so, muntahanku menetes (menjijikan).
Wulandari yang duduk di depanku bersandar pada papan kapal, aku yakin dia juga sebenarnya ingin mabok, tapi,,, sekuat tenaga Wulandari menahan hasrat maboknya. Dengan bantuan Mahadewa, akhirnya dia berhasil melawan maboknya (-_-). Aku lemas, dan mulai mengantuk lagi, aku bersandar pada lututku mencoba untuk tidur. Nurmayuni tetap bersandar di pundakku yang rapuh (Inget!! “Rapuh” hanyalah majas hiperbola!!).
Perjalanan yang mengenaskan itu akhirnya hampir berakhir ketika dihadapan kami nampak dermaga Sebesi. Ya Allah, akhirnya berakhir juga penyiksaan ini. Aku mulai bangkit walau lemas, tak lupa, aku bangungkan Nurmayuni. Kapal Imut menepi perlahan.  Kami mulai melepas pelampung dan mengangkati barang masing-masing. Pelan-pelan kami turun, dengan kaki gemetar aku melangkah. Parahnya, ada beberapa rekan yang tak tau diri, sudah tau aku lemas dan pucat malah disuruh ini itu. Karena sudah BT dan lemas akhirnya aku turun dan tak mempedulikan beberapa orang manja yang menyuruhku ini itu. Bang mamat menolong saat aku turun ke lantai dermaga. Lega rasanya menginjak daratan lagi. Fitria berjalan di sisiku, sambil berkata bahwa ia sangat lelah.
Fitria mengajakku untuk melangkah lebih cepat, agar kami cepat sampai di penginapan dan  merebahkan badan disana. Di depan kami ada Papi dan Muzaki serta beberapa asisten.
“Pap, aku lemes lo,, mabok...”Kataku (Minta diperhatiin sama papi)”
“Iya sama,... ombaknya gede banget ya..”Kata Papi merespon jawabanku.
“Penginapan buat cewek yang mana Pap?”Kata Fitri.
“Yang mana ya...”Kata Papi sambil mellihat rumah-rumah penginapan.
“Oh yang ini saja...”Kata Papi.
“Oh iya pap,,, yuk masuk”Kataku pada Fitri.
Kami segera masuk ke penginapan. Penginapannya cukup luas, dan sudah disiapkan semua kasur busa yang berjejer rapi di lantai keramik rumah itu. Aku segera meletakkan tas pada kasur yang telah kupilih dan sesegera mungkin aku menuju kamar mandi. Oh ya, hampir lupa... hari itu aku sedang Menstruasi. So, aku juga sedang dalam kondisi PMS (Pengen Mbakar Skiripsi/Eh... Pre-Menstruasi Syndrome maksudnya heheh). Dalam kondisi PMS, aku sering marah-marah pada orang di sekelilingku. Oke, kita kembali ke penginapan lagi. Kamar mandi yang ada di penginapan itu menurutku cukup tidak menyenangkan. Kamar mandi berbau dan tidak terawat, tapi kami masih bersyukur karena setidaknya masih ada kamar mandi.
Teman-teman lain sudah masuk ke penginapan. Kira-kira, 25’n mahasiswi ada di dalam ruangan itu, dan tentu saja berebut kamar mandi, sebab jumlah kamar mandi tak sebanding dengan jumlah mahasiswi.
Kami Makan siang setelah beberapa saat merebahkan tubuh di kasur yang cukup nyaman itu. Kami membuka bungkusan nasi yang dibawa dari metro. Kira-kira apa ya menunya..... dan,, deng-deng (Suara piano serem), isinya adalahhhhhhh Ayam goreng dan capcay yang sudah basi (>o<). No problem.... kita tetap makan walaupun tak menunya bukan seperti yang kami harapkan. Daripada sakit dan merepotkan Seksi kesehatan, mendingan kami makan saja. Emm sebenernya aku pengen banget merepotkan seksi kesehatan,.. awalnya aku mau ekting pura-pura sakit biar di rawat sama Ditha, tapi yang bertugas jadi seksi kesehatan di bis Imut adalah Carolin, Wanita Durjana, dan Jannah... Ditha bertugas di bis yang gak Imut. Lanjut aja deh, kita lupain ekting pura-pura sakitnya... usai makan kita mendapat amanat bahwa kita semua harus segera siap-siap karena sebentar lagi melaksanakan praktikum di hutan mangrove....OMG, Praktikum dengan kondisi alam sedang menangis (Hujan), oh,, semakin berat saja hari ini.




           


Komentar